Sobat Budaya Foundation | EKSPEDISI BANGKA BELITUNG
1004
post-template-default,single,single-post,postid-1004,single-format-standard,ajax_leftright,page_not_loaded,,large,shadow2,wpb-js-composer js-comp-ver-4.4.3,vc_responsive

EKSPEDISI BANGKA BELITUNG

 
04 Mar 2015, oleh sobatbudaya di Ekspedisi

23.00 WIB
Malam ini, dengan tekad bulat menjalankan misi Gerakan Sejuta Data Budaya (#GDSB) Tiga sekawan, Rinaldy, Dandi dan Fickri memulai pemberangkatan dalam ekspedisi Bangka Belitung. Dimulai dari kantor yang berlokasi di Jl. Bangbayang,Dago, Bandung. ketiganya menuju travel dan menuju bandara.

Minggu, 25 Januari 2014
Cengkareng, Soekarno Hatta
Pesawat yang akan ditumpangi ternyata mengalami hambatan. Pemberangkatan yang seharusnya pukul 05.00 WIB, harus dimundurkan 5 jam kemudian. Singkat cerita, perjalanan Jakarta menuju Bangka Belitung memakan waktu 45 Menit.

Bangka Belitung
Sesampainya di bandara, Rinaldy, Dandi dan Fickri disambut oleh komunitas sobat budaya disana. Dengan ditemani 2 kru dari RCTI, ketiganya menyimpan barang, istirahat dan makan siang di warung makan khas Bangka Belitung. Banyak makanan khas yang mereka temui disana, salah satunya Rusep, sebuah makanan fermentasi ikan dengan rasa keasam-asaman. Tidak semua yang ikut serta menyukai makanan tersebut, hanya Rinaldi yang menganggapnya enak.
Selain Rusep, mereka memesan ikan pari, iga, opor ayam, makanan yang bisa ditemui dimana saja. Namun ada satu lagi makanan khas Bangka yang mereka pesan, sayur khas yang rasanya mirip dengan sayur asam. Karena lapar mereka memakannya dengan lahap.
Setelah mengenyangkan isi perut, perjalanan ekspedisi dimulai. Destinasi pertama adalah tempat pembuatan Gitar Dambus. Lokasinya tidak jauh dari warung makan tadi. Disana mereka bertemu dengan Zaroti, pria yang berusia 60 tahun itu adalah seorang maestro Gitar Dambus, sebuah alat musik tradisional khas Bangka Belitung. Pembuatan Dambus diperlihatkan oleh anak dari Zaroti dengan memperlihatkan simulasi pembuatannya.
Gitar Dambus, sebuah gitar yang tidak seperti gitar pada biasanya, Gitar ini hanya dapat memainkan lagu-lagu melayu. Senarnya ada 3 rangkap dua. Yang menarik, gitar ini memiliki ujung yang dihiasi oleh kepala Kijang.namun, seiring berjalannya waktu diganti oleh kepala Rusa. Dua binatang tersebut memang banyak ditemukan di Bangka Belitung. Uniknya ada dua macam cabang tanduk pada gitar, yaitu cabang dua dan cabang tiga. Sempat terpikir antara cabang dua dan tiga memiliki perbedaan filosofis. namun ternyata tidak, dua percabangan tersebut hanya bergantung pada kayu bahan dasarnya.
Gitar dambus dijual sekitar 2,5jt hingga 3jt. Harga tersebut telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.

Kelakak, 14.30
Ekspedisi selanjutnya menuju Komunitas Kelekak, sebuah tempat yang bisa disebut sebagai Dunia Fantasi Tradisional. Beragam permainan tradisional khas Bangka Belitung dapat dijumpai dan dimainkan disini. Tujuannya memang untuk melestarikan permainan tradisional dan sebagai wahana bermain anak-anak desa yang berlokasi di lapangan tengah hutan tersebut.
Tidak ada campur tangan pemerintah disini, kelekak dengan segala wahana permainan tradisional gratisnya dibangun pada tahun 2000 dengan dana dari warga setempat dan bantuan seorang sarjana lulusan ITB. Dan rencananya kedepan akan dibangun beberapa wahana tambahan seperti flying fox dll.
Tidak lengkap jika perjalanan tanpa kuliner. Disini Rinaldi, Fickri dan Dandi disuguhkan Mie Bangka. Sebuah mie yang rasanya sangat enak. Disuguhkan dengan kuah ikan, toge dan dicampur oleh jeruk cabe.
Selepas dari Kelekak, mereka beristirahat demi melanjutkan ekspedisi esok harinya.
Senin, 26 Januari 2014
Ekspedisi dilanjutkan dengan melihat tarian tradisional Campak, tarian khas Bangka Belitung.
Setelah melihat tarian Campak, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Ishadi, wanita penenun kain Cual khas bangka.
Kain tersebut konon katanya telah berusia 2 abad. Kain yang berlapis benang emas ini bahan bakunya didapatkan dari singapore. Motifnya terinspirasi dari alam, yaitu flora dan fauna khas Bangka. Tiap kain memiliki nama yang berbeda, ada semut setaman, gajah setapak, bebek setaman, dll.
Terdapat juga buku sejarah yang menerangkan mengenai kain-kain tersebut. Buku ini diwariskan secara turun temurun dari kakek bu Ishadi.

Selasa, 27 Januari 2014
Hari ketiga ekspedisi, sebelum makan siang ketiganya bertemu gubernur dan disbudpar Bangka Belitung, Rustam Effendi dan Tajudin.

Rabu, 28 Februari 2014 jam 06.30
Hari keempat ekspedisi, jadwal mereka mengunjungi suku Lom yang nama aslinya suku Mapur. Suku Lom ini ternyata terbagi menjadi dua, yaitu daerah pantai dan daerah pegunungan. Nama suku Lom berasal dari “belom” atau belum, filosofinya karena mereka tidak atau belum mempunyai agama. Suku yang jumlah penduduknya sekitar 200 jiwa ini jarak rumahnya berjauhan satu sama lain. Antara satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya sekitar 500 meter. Rumah mereka masih sangat sederhana namun disuguhkan pemandangan pantai yang sangat indah dan masih sangat bersih.

Kunjungan pertama ketiganya mengunjungi pak Herman di kesekertariatan suku Lom. Pak Herman berperan sebagai translitor bahasa indonesia ke bahasa suku Lom. Ada yang menarik dari perjalanan di suku Lom ini. Tempat ini dikenal sangat mistis dan penuh pantangan. Banyak kejadian-kejadian ‘aneh’ yang dialami ketika berada disini. Dan sayangnya kunjugan ekspeditor tidak pada bulan yang benar. Ada tantangan yang tidak memperbolehkan suku Lom untuk menceritakan segala sesuatu tentang mereka pada bulan pertama hingga kelima, salah satunya bulan januari ini. Alhasil tim ekspeditor tidak mendapatkan informasi yang banyak mengenai suku Lom tersebut.

Pantangan-pantangan di suku Lom banyak sekali. Salah satunya tidak boleh bersiul dan bicara usil. Pernah suatu ketika ada acara TV swasta yang meliput mengenai suku Lom. Sang sutradara menyuruh salah satu anak disana untuk memanjat pohon kelapa untuk keperluan syuting. Karena pohon kelapa disana tidak boleh dipanjat, alhasih anak tersebut mengalami cedera patah tulang karena jatuh dari pohon. Namun ajaibnya, setelah mendapat pengobatan langsung dari tabib suku Lom bernama Negile, anak itu dapat berlari kembali pada saat itu juga. ada hal unik dalam diri negile, sehari harinya negile tidak meminum air putih atau air mineral.akan tetapi negile meminum air arak atau beer(minuman beralkhol). obat-obatan dari dokter bukan menjadi obat ketika negile sakit,arak lah alasannya. karena arak bisa membuat negile sehat ketika sakit dibandingkan meminum obat dari dokter.
Dan salah satu kejadian aneh dialami oleh Dandi dan kru RCTI. Ketika hendak meminta izin ke rumah kepala suku Lom, yang kebetulan anaknya Negile, kejadiannya dia sempat ‘tersesat’ berjam jam. Dandi mendapat informasi bahwa rumah berada di pabrik sawit, namun anehnya seluruh karyawan disana tidak pernah tahu ada rumah disana. Meskipun pada akhirnya dandi menemukan rumah yang dituju, dan kembali pada kedua temannya yang menunggu 2,5 jam di balai adat komunitas Lom, yang disana ternyata pos tersebut menjadi tempat tidur monyet-monyet yang memang banyak terdapat disana.
Disana kewajiban tamu yang berkunjung adalah tidak boleh menolak apapun yang disuguhkan kepadanya. Kalau tidak, katanya akan terjadi sesuatu pada tamu-tamu yang berkunjung. Namun mereka mengerti jika tamu yang berkunjung beragama islam, meskipun mereka memelihara babi, mereka mengerti bahwa makanan yang disajikan harus halal.
Kemudian ketiganya mengunjungi rumah nenek pengrajin beberapa kerajinan tangan khas suku lom.
Uniknya setiap rumah yang ada di suku Lom selalu ada tulang-tulang bagian dari hewan apapun yang digantung didepan rumahnya. Tujuannya adalah penolak bala.
Selepasnya,tim ekspeditor mengunjungi Pantai Tikus. Dinamakan Pantai Tikus karena dahulu disana banyak lubang-lubang tikus. Selama perjalanan, tim ekspeditor disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah. Selain itu, kanan kiri banyak tempat bekas pengambilan timah yang tergenang air hujan yang juga menyerupai air laut.

Kamis, 29 Februari 2014
Hari terakhir tim ekspeditor mengunjungi Munthok, Bangka Timur. Sekaligus ke bukit Manungring, sebuah tempat pengasingan Ir. Seokarno dan Moh. Hatta pada zaman dahulu. Perjalanan dilakukan dari ujung ke ujung, mereka sebut. Menggunakan mobil, perjalanan ditempuh selama 4 jam. Namun 4 jam tersebut tanpa macet plus disuguhi pemandangan yang luar biasa di sekitarnya
Sesampainya di Bukit Manumbing, mereka bertemu cucu dari ajudan Soekarno sewaktu diasingkan dahulu. Suasana cukup mistis dirasakan di tempat pengasingan ini. Terlebih yang menyambut kedatangan tim ekspeditor juga memiliki keahlian lain atau indigo.
Selain bung karno dan bung hatta, terdapat pejuang lain yang diasaingkan pula di tempat ini, diantaranya Agus Halim, Muh Rum, dan Suryadharma.
Di tempat pengasingan tim ekspeditor mengunjungi kamar Bung Karno dan Bung Hatta. Tidak semua orang yang bisa masuk kesini, hanya orang-orang ‘positif’ yang bisa. Pengkategorian positif negatif entah dari mana dinilainya. Namun pernah ada kapolri yang mengunjungi tempat sana bawa keris dan tidak bisa masuk kesana.
Semua masih asli disana, kecuali seprai. Uniknya setiap malam jumat, seprai diganti oleh penjaganya ke yang asli. Anehnya, paginya seprai sudah berantakan.
Selepas dari pesanggrahan bung karno kita mengunjungi mercusuar di Munthok. Tujuannya hanya untuk melepas penat.
Dan berakhirlah eksedisi selama hampir seminggu di Bangka belitung.

Bandung, Kantor Sobat Budaya
Sabtu, 24 Januari 2014
Nida Amalia

Semua foto di artikel ini diambil oleh Tim Ekspedisi BaBel

Silakan komentar