Sobat Budaya Banyuwangi | Ekspedisi Singkat Suku Using Banyuwangi
74
post-template-default,single,single-post,postid-74,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,large,shadow3,wpb-js-composer js-comp-ver-4.4.3,vc_responsive

Blog

Ekspedisi Singkat Suku Using Banyuwangi

03 Jun 2015, oleh banyuwangi di Kegiatan

Penduduk negara Indonesia awalnya adalah penganut agama Hindu-Buddha termasuk di dalamnya Banyuwangi atau yang dulu disebut dengan Kerajaan Blambangan. Di zaman kerajaan Hindhu-Buddha banyak bermunculan kerajaan-kerajaan besar yang menguasai Nusantara, Majapahit salah satunya. Asal-usul Blambangan tak lepas dari pengaruh kerajaan terkuat se-Nusantara itu. Raden Wijaya sebagai raja pertama telah memberikan hadiah kepada Arya Wiraraja atas jasanya yang membabat alas hingga ke hutan Tarik. Atas jasanya inilah, Raden Wijaya memberikan sebuah wilayah bekas kerajaan Singosari yang membentang ke timur kepada Arya Wiraraja, lebih tepatnya mencakup Lumajang dan Probolinggo ke timur.
Lambang dari kesejahteraan kerajaan Blambangan bukanlah Gada Kuning seperti yang telah banyak diceritakan pada kisah Damar Wulan dan Menak Jinggo. Lambang dari kerajaan Blambangan adalah Lumbung atau kuningnya padi. Cerita tentang Damar Wulan dan Menak Jinggo sebenarnya kurang dipercayai kebenarannya, hal ini dikarenakan adanya narasumber yang menyatakan bahwa cerita tersebut merupakan cerita propaganda berunsur politik. Cerita tersebut diambil dari Babat Perang Paregreg. Notodiningrat adalah orang yang mengarang cerita tersebut. Orang yang lahir di Malang dan besar di Surakarta itu adalah Bupati Tumenggung yang merupakan suruhan dari penjajah Belanda. Di situlah letak kepentingan politiknya, yaitu untuk membantu Belanda memperluas kekuasaannya.
Roda terus berputar, seperti itulah siklus di era kerajaan Hindhu-Buddha. Pedagang Arab mulai banyak yang masuk ke Indonesia sehingga, muncullah kerajaan Islam yang menjadi pesaing dari kerajaan Hindu-Buddha. Kerajaan Hindu-Buddha mulai banyak yang runtuh, tanpa pengecualian. Begitu juga dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Kehancuran kerajaan Majapahit disebabkan karena beberapa hal diantaranya, meletusnya Perang Paregreg atau perang saudara antara Bhre Wirabumi dan Wikramawardana di tahun 1802-1806. Kemudian penyebab lainnya adalah munculnya kerajaan Islam yaitu Demak di Jawa. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang beralih keyakinannya pada agama Islam. Pun di kerajaan Blambangan, sebagai kerajaan dengan mayoritas masyarakatnya beragama Hindu banyak diantara mereka yang pergi meninggalkan Blambangan dan pergi ke Bali untuk meminta bantuan ke Raja Buleleng. Tak semua rakyat Blambangan pergi ke Bali, mereka yang menyebrang ke Bali hanyalah yang berkeyakinan sama dengan kerajaan Bali yaitu agama Hindu. Sisa dari mereka memilih untuk memeluk Islam, dan orang-orang yang tidak ikut meyeberang ke Bali inilah yang disebut dengan sebutan orang Using, Using berarti tidak. Jadi, asal kata Using disini berarti Tidak dengan makna tidak ikut pergi ke Bali.
Suku Using adalah suku yang merupakan gabungan dari beberapa suku. Lebih mudahnya, suku Using merupakan campuran dari suku Madura, Bali, dan Jawa (Blambangan). Campuran ketiga suku tersebut dipengaruhi oleh ketak geografis Banyuwangi itu sendiri, yang berbatasan langsung dengan Jember (Suku Madura), Bali (suku Bali), dan letak Banyuwangi sendiri yang berada di Jawa. Sama seperti suku-suku lain yang ada di Indonesia, mereka memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bahasa, pakaian adat, rumat adat, dan tradisi Using yang tak sama dengan suku lainnya adalah bukti dari keunikan setiap suku yang ada di negara Agraris ini.
Lahirnya Bahasa Using banyak dipengaruhi oleh bahasa Inggris. Buktinya adalah akhiran i pada bahasa Using pelafalannya adalah “ai”, selain itu akhiran o pada bahasa Using akan mendapat tambahan “k” pada pelafalannya. Contoh, nama seseorang Sanusi maka dilafalkan menjadi Sanusai, Supeno menjadi Supenok. Semua ada kaitannya dengan bhs Inggris.
Menurut narasumber, mulai dari wilayah Banyuwangi bagian timur saat pembuataan air bersih dari desa gedor, nama-nama daerah di Banyuwangi banyak mirip dengan bahasa inggris. Diantaranya adalah daerah penataban yang berasal dari kata pen dan table, selanjutnya adalah daerah Kelir yang berasal dari kata Clear. Kata yang juga serapan dari bahasa Inggris adalah Blungking atau Semangka, asal katanya Blung (belung) atau tulang dan King yang berarti raja.
Suku Using Banyuwangi banyak melahirkan kesenian-kesenian unik yang menarik. Gandrung, Seblang Bakungan, Seblang Olehsari, Barong Bakungan, Barong Ider Bumi, Puter Kayun, dan masih banyak lagi. Semuanya memiliki keunikan dan kemistisan tersendiri. Ambillah salah satunya Seblang. Seblang merupakan tarian yang terbagi menjadi dua macam yaitu Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Kata seblang sendiri terdiri dari dua kata yaitu “seb” yang berarti diam dan “lang yang berarti langgeng. Beberapa tokoh adat juga menyebutkan bahwa Seblang berarti sengkolo, bala, blai, maksudnya adalah tarian tersebut ada bertujuan untuk mencegah adanya bala atau cilaka, menjauhkan masyarakat dari segala penyakit.
Perbedaan antara tarian Seblang Bakungan dan Olehsari yang sering didengar hingga saat ini adalah, penari pada Seblang Bakungan adalah orang-orang yang sudah tua, sedangkan pada tarian Seblang Olehsari penarinya masih Gadis. Kemudian waktu pelaksanaannya, Seblang Bakungan hanya dilakukan semalam suntuk, sedangkan pada Seblang Bakungan dilakukan selama satu minggu mulai siang menjelang sore hingga menjelang senja. Persamaannya yaitu, penari menari dengan keadaan tidak sadar. Selain itu dalam tarian tak ada pawang, pemanggilan roh dilakukan melalui alunan tembang yang dilantunkan sinden.
Diantara kedua Seblang tersebut, keduanya memang menarik namun, agaknya Seblang Olehsari yang akan sedikit diulas lebih dahulu. Seblang Olehsari merupakan adat Suku Using. Adat di sini berbeda dengan tradisi, beda halnya dengan barong, Janger, Pecel Kemiren. Adat berarti waktu pelaksanaannya tak bisa dilakukan seketika. Misalkan, tarian Seblang Olehsari hanya dilakukan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, berbeda dengan Barong yang dapat ditanggap ketika ada hajatan tertentu seperti sunatan. Itulah beda antara adat dan tradisi.
Tarian Seblang diyakini bahwa Tuhan dan desa olehsari masih memiliki hubungan Ghaib lewat roh yang menurut mereka utusan illahi yang masuk ke tubuh penari. Mitos pada Seblang Olehsari adalah si penari harus benar-benar masih gadis dan masih keturunan dari Si Empunya Seblang. Ternyata mitos tersebut dibantahkan oleh beberapa tokoh adat, yang terpenting bukan urusan kegadisannya tetapi lebih pada kejujurannya. Wanita yang telah menikah atau janda tak masalah asalkan mereka jujur. Jadi, tak selalu gadis dan keturunan dari penari Seblang terdahulu. Seperti kejadian pada ritual Seblang beberapa tahun lalu, si penari hingga tiga kali tak kunjung menari kemungkinannya adalah sidat jujur tak melekat pada si penari.
Pada upacara tarian Seblang terdapat buah-buahan yang digantung pada atap gubuk tempat sinden melantunkan tembangnya, buah-buahan tersebut hanyalah sebatas simbolis. Tak maksud lain, hanya menunjukkan bahwa Desa Olehsari itu subur dan harapannya masyarakat menjadi makmur. Tak ada aturan bahwa hanya buah tertentu saja yang dapat digantung, apapun hasil dari tanah Olehsari yang penting dimanfaatkan masyarakatnya. Subur menandakan kemakmuran, dengan keadaan yang makmur diharapkan semua warganya menjadi panjang umur.
Uniknya disini adalah terdapat dua kesenian yang tidak boleh dimainkan di salah satu tempat. Seblang Olehsari dan Barong Ider Bumi Kemiren. Awalnya Seblang Olehsari dimainkan di Kemiren, namun setelah adanya Barong Ider Bumi maka Seblang dipindahkan di Olehsari. Uniknya, misalkan ketika ada pawai Barong Ider Bumi yang melewati daerah Olehsari gamelan berhenti dimainkan. Sehingga saat melewati desa Olehsari suasana pawai Barong Ider Bumi cukup sunyi. Hal tersebut dikarenakan masyarakat sangat menghargai dan meyakini dari adanya petuah antara sesepuh diantara kedua belah pihak yang telah menyepakati bahwa Barong Ider Bumi tidak boleh dimainkan di Olehsari dan Seblang Olehsari tidak boleh dimainkan di Kemiren. Jika pantangan tersebut dilanggar, maka yang besangkutan akan terjangkit penyakit.

  • WordPress
  • Google Plus
  • Facebook

Silakan komentar