Sobat Budaya Jakarta | Sepenggal Kisah tentang Gerakan Sejuta Data Budaya & Komunitas Sobat Budaya
37
post-template-default,single,single-post,postid-37,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,large,shadow3,wpb-js-composer js-comp-ver-4.4.3,vc_responsive

Blog

Sepenggal Kisah tentang Gerakan Sejuta Data Budaya & Komunitas Sobat Budaya

13 Okt 2014, oleh jakarta di artikel

Berangkat dari pertanyaan pada tahun 1500 M, apa yang nenek moyang Indonesia lakukan, dibandingkan dengan Bangsa Eropa yang sudah terkenal dengan lukisan-lukisan indah dan penuh sandi dari Leonardo Da Vinci dengan rumus-rumus geometrinya, para peneliti dari Bandung Fe Institute (BFI) memulai penelitiannya tentang nenek moyang bangsa Indonesia pada tahun 2005.
Peneliti BFI yang diketuai oleh Hokky Situngkir memulai penelitian tentang motif batik nusantara. Sekitar 5000-an motif batik nusantara dikumpulkan dan didata sebagai modal awal penelitian mereka.


Selain, 5000-an motif batik tersebut, didapat pula lukisan-lukisan bali di tahun 1500-an M. Pola-pola yang didapat dari motif batik dan lukisan tersebut diteliti, dan kemudian ditemukan bahwa lukisan dan motif batik tersebut tidak memiliki pakem layaknya rumus geometri yang terdapat pada hasil-hasil karya Leonardo Da Vinci. Karena, bila kita menerapkan rumus geometri standar pada motif batik dan lukisan tersebut, maka akan menghasilkan motif dan lukisan yang hancur dan tidak beraturan. Lalu apa yang menjadi pakem nenek moyan dalam membuat motif batik dan lukisan zaman dahulu kala?

Setelah diteliti, ternyata motif yang tertuang dalam batik dan lukisan bali tersebut memiliki rumus geometri dimensi satu koma dan dua koma, ya, geometri fraktal! Bayangkan nenek moyang kita sudah mengimplementasikan rumus geometri fraktal sejak tahun 1500-an M, sedangkan rumus geometri fraktal baru terungkap pada tahun 1975 oleh Benoit Mandelbrot.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim BFI maka terciptalah Batik Fisika dan Pohon Filomemetika Batik. Pohon Filomemetika Batik menyerupai cakram yang terdiri dari 5000-an motif batik yang diteliti. Motif-motif batik tersebut dikelompokkan berdasarkan garis dan warna dengan menggunakan aplikasi mBATIK. Hasilnya pun ternyata menunjukkan, motif batik yang berasal dari satu daerah yang sama akan mengelompok menjadi satu rumpun.


Di tahun 2009, atas upaya yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Batik menjadi World Heritage dengan data base motif batik yang dimiliki oleh BFI dan diperkuat dengan Pohon Filomemetika Batik hasil penelitian BFI.
Data base motif batik yang dimiliki oleh BFI beserta dengan Pohon Filomemetika Batik hasil penelitian BFI pun mendapat Penghargaan Rekor MURI pada tahun 2010.

 

Ditulis oleh Siti Wulandari

  • WordPress
  • Google Plus
  • Facebook

Silakan komentar