{"id":40,"date":"2014-11-12T22:40:19","date_gmt":"2014-11-12T14:40:19","guid":{"rendered":"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/?p=40"},"modified":"2014-11-21T22:22:31","modified_gmt":"2014-11-21T14:22:31","slug":"ekspedisi-perak-bali-antara-kesakralan-kemewahan-dan-klaim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/2014\/11\/12\/ekspedisi-perak-bali-antara-kesakralan-kemewahan-dan-klaim\/","title":{"rendered":"Ekspedisi Perak Bali: Antara Kesakralan, Kemewahan dan Klaim"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Foto-Bersama-Suarti-wawancara-perak-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-41\" src=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Foto-Bersama-Suarti-wawancara-perak-1-300x225.jpg\" alt=\"Foto Bersama Suarti - wawancara perak 1\" width=\"340\" height=\"255\" srcset=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Foto-Bersama-Suarti-wawancara-perak-1-300x225.jpg 300w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Foto-Bersama-Suarti-wawancara-perak-1.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 340px) 100vw, 340px\" \/><\/a><\/p>\n<p><em>Kerajinan perak tak hanya hidup di dalam keseharian masyarakat Bali, kini perak pun telah termasyur ke pelosok negeri.<\/em><\/p>\n<p>Tim ekspeditor Sobat Budaya merasa terpanggil untuk mengenal perak di Bali, tepatnya Desa Celuk. Celuk telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak. Tapi bagaimana awal kemunculannya hingga akhirnya mendunia? Tim ekspeditor bersama Ayushita Nugraha sebagai Duta Sobat Budaya menelusuri keberadaan perak di Celuk pada awal bulan Agustus 2014.<\/p>\n<p>Ketika memasuki jalan raya Celuk, tim ekspeditor langsung disambut oleh barisan galeri perak. Hampir seluruh masyarakat Desa Celuk menekuni kerajinan perak. Awalnya kerajinan perak hanya terbatas pada keperluan agama. Berkat pariwisata, kerajinan perak di Celuk pun semakin berkembang.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>\u201cSaya lihat dalam pusaka-pusaka keris yang ada di Bali, waktu pembuatannya sekitar abad ke-19. Jadi menurut saya ornamen-ornamen dan <em>patran-patran<\/em> itu sudah ada sejak tahun 1920-an,\u201d ungkap Tjok Ace, salah satu keturunan Puri Ubud.<\/p>\n<p>Dari segi keturunan, pengrajin perak berasal dari klan Pande. Klan ini yang biasa mengerjakan emas, besi dan perunggu. Sejak dulu, klan Pande banyak tinggal di Desa Celuk. Pada zaman kerajaan, klan Pande disebut sebagai abdi kerajaan. Mereka fokus membuat produk-produk kerajinan untuk istana dan pura. Keperluan istana seperti mahkota, keris dan kerajinan lainnya.\u00a0\u00a0 Selain itu, mereka juga membuat peralatan upacara yang terkait dengan upacara keagamaan, seperti <em>dulang<\/em>, tempat air suci (<em>kubuh<\/em> dan <em>canting<\/em>), tempat bunga atau sesaji (<em>bokor<\/em> dan <em>saab<\/em>).<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/2014-08-07-13.35.00-e1415803076187.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-44 aligncenter\" src=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/2014-08-07-13.35.00-e1415803076187-300x286.jpg\" alt=\"2014-08-07 13.35.00\" width=\"300\" height=\"286\" srcset=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/2014-08-07-13.35.00-e1415803076187-300x286.jpg 300w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/2014-08-07-13.35.00-e1415803076187-1024x976.jpg 1024w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/2014-08-07-13.35.00-e1415803076187.jpg 1523w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>\u201cKemunculan perak awalnya memang untuk kepentingan kerajaan dan keagamaan. Pada era 1970-an sudah mulai pergeseran. Pengrajin mulai membuat perhiasan untuk kepentingan penari, seperti <em>badong<\/em>, <em>subeng<\/em>. Tapi bukan untuk kepentingan sehari-hari, masih untuk kepentingan adat,\u201d kata Drs. I Nyoman Ngidep Wiyasa, M.Si., dosen ISI Denpasar.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Jawan-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-42 aligncenter\" src=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Jawan-1-300x223.jpg\" alt=\"Jawan 1\" width=\"353\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Jawan-1-300x223.jpg 300w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Jawan-1.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 353px) 100vw, 353px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Ciri khas perak di Bali terletak pada <em>jejawan<\/em> atau <em>jawan<\/em>, material perak berbentuk bola atau lempengan kecil. Ada dua jenis jawan, yaitu jawan pasir dan jawan plat (berbentuk lempengan). Jawan ditempa dan ditata dengan granulasi membentuk untaian tumbuhan. Bentuknya cenderung melingkar.<\/p>\n<p>\u201cFilosofi jawan terlihat dari material perak yang menyerupai titik-titik kemudian membentuk garis. Sebuah karya seni selalu mulai dari sebuah garis, begitu pula dengan kehidupan kita,\u201d jelas Desak Nyoman Suarti, seorang pengusaha perak.<\/p>\n<p>Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nyoman Ngidep Wiyasa, motif asli Bali disebut <em>keketusan<\/em> atau geometris, karena unsur-unsurnya berupa garis. Unsur-unsur itu akan ditambah dengan rangkaian kawat-kawat dan <em>jawan<\/em> sehingga menampilkan motif geometris seperti pada nekara. Motif-motif perak berkembang dengan masuknya pengaruh Cina, Mesir dan Belanda. Tjok Ace menegaskan adanya pengaruh asing dalam motif perak Bali bukan berarti menjiplak. Namun, pengaruh asing itu disesuaikan dengan kearifan lokal Bali.<\/p>\n<p>Perkembangan perak yang berkembang pesat tidak membuat masyarakat Celuk sepenuhnya tenang. Ada bayang-bayang klaim motif dari perancang perak asing. Kasus klaim pernah terjadi tahun 2008. Banyak perancang asing yang telah mematenkan motif perak Bali di negaranya. Sehingga, pengrajin Bali dapat terjerat hukum jika memproduksi motif yang mereka patenkan. Ironis, para pengrajin Bali justru dilarang berkarya dalam tradisi sendiri.<\/p>\n<p>\u201cOrang asing itu banyak melihat kesempatan bahwa perak Bali dapat menjadi ikon dunia. Sedangkan orang Indonesia belum peduli. Para perancang asing ini mematenkan motif warisan budaya Indonesia. Saat itu, kami bikin forum peduli budaya bali untuk menolak paten mereka,\u201d tegas Suarti yang juga ikut melayangkan protes terhadap klaim tersebut.<\/p>\n<p>Kekuatan masyarakat akhirnya berbuah hasil. Para pengrajin Bali mampu membuktikan motif-motif itu memang milik orang Bali. Motif-motif itu sudah ada di pura-pura sejak lama. Selain itu, pemerintah telah aktif membawa kasus ini hingga ke PBB. Tentu, harapannya tak ada lagi klaim budaya Indonesia dari pihak asing.<\/p>\n<p>\u201cSekarang kita sudah mulai hati-hati. Kami menyarankan kepada\u00a0 pemerintah dan akademisi supaya membuat <em>database<\/em>. Ukir-ukirannya di Gianyar seperti apa, kemudian ukiran Karangasem itu apa <em>aja<\/em>,\u201d tutur Suarti.<\/p>\n<p>Dari segi sejarah, para seniman Bali dulunya belum sadar akan hak cipta. Seluruh karya seniman Bali adalah anonim. Bahkan, menurut Tjok Ace para seniman merasa bahagia ketika karyanya dijiplak. \u201cMereka merasa bahagia karena jiplakan itu bararti karya mereka telah diterima.\u201d Upaya Tjok Ace boleh jadi sebuah kemajuan. Banyaknya produk kerajinan di Bali mendorong Tjok Ace bersama rekan-rekan lainnya mendirikan klinik HAKI. Klinik ini membantu para seniman mematenkan karyanya.<\/p>\n<p>Pengumpulan data menjadi sangat penting. Sayangnya belum banyak data budaya yang terkumpul. Inilah yang kini tengah dilakukan Sobat Budaya, melakukan ekspedisi dan mendata budaya Indonesia. Harapannya, data budaya ini dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n    <!-- sktbuilder starter --><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/plugins\/skt-builder\/sktbuilder\/sktbuilder-frontend-starter.js\"><\/script><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/plugins\/skt-builder\/sktbuilder-wordpress-driver.js\"><\/script><script type=\"text\/javascript\"> var starter = new SktbuilderStarter({\"mode\": \"prod\", \"skip\":[\"jquery\",\"underscore\",\"backbone\"],\"sktbuilderUrl\": \"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/plugins\/skt-builder\/sktbuilder\/\", \"driver\": new SktbuilderWordpressDriver({\"ajaxUrl\": \"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-admin\/admin-ajax.php\", \"iframeUrl\": \"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/2014\/11\/12\/ekspedisi-perak-bali-antara-kesakralan-kemewahan-dan-klaim\/?sktbuilder=true\", \"pageId\": 40, \"pages\": [], \"page\": \"Ekspedisi Perak Bali: Antara Kesakralan, Kemewahan dan Klaim\" }) });<\/script><!-- end sktbuilder starter -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajinan perak tak hanya hidup di dalam keseharian masyarakat Bali, kini perak pun telah termasyur ke pelosok negeri. Tim ekspeditor Sobat Budaya merasa terpanggil untuk mengenal perak di Bali, tepatnya Desa Celuk. Celuk telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak. Tapi bagaimana awal kemunculannya hingga&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":43,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[10,7,9],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2014\/11\/Perak-Bali.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/bali\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}