{"id":618,"date":"2015-04-08T10:38:17","date_gmt":"2015-04-08T03:38:17","guid":{"rendered":"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/?p=618"},"modified":"2015-04-13T10:23:36","modified_gmt":"2015-04-13T03:23:36","slug":"bumi-silampari-memanggil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/2015\/04\/08\/bumi-silampari-memanggil\/","title":{"rendered":"Bumi Silampari Memanggil"},"content":{"rendered":"<p>Oleh\u00a0<a title=\"Twitter Serli\" href=\"https:\/\/twitter.com\/serlizp\" target=\"_blank\">Serli Purwanti<\/a><\/p>\n<p>Dari segi demografi, sudah sangat jelas bahwa Lubuklinggau berbeda dengan Palembang, seperti yang sudah dibahas sedikit di <a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/2015\/03\/24\/lubuklinggau-itu-palembang\/\" target=\"_blank\"><strong>Lubuklinggau itu Palembang?<\/strong><\/a>, meski masih sama-sama berumpun melayu, tapi\u00a0 Lubuklinggau dan Palembang memiliki perbedaan dalam sisi kebudayaan.<\/p>\n<p>Motto Kota Lubuklinggau itu, SEBIDUK SEMARE.<\/p>\n<p>Sebiduk berasal dari bahasa Sumatera Selatan yang artinya perahu. Sedangkan Semare berasal dari Bahasa Lubuklinggau yang berarti suatu tempat pertemuan beberapa aliran sungai. Jadi, Sebiduk Semare dapat diartikan kerjasama masyarakat Lubuklinggau dalam satu wadah guna mencapai satu tujuan bersama, yaitu menyukseskan pembangunan kota di segala bidang.<\/p>\n<p>Kebudayaan Lubuklinggau sebenarnya merupakan perpaduan antara Melayu dan Jawa. Hal ini bisa mudah dikenal melalui bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat kota Lubukliggau. Disini, kalau \u2018melihat\u2019, bilangnya \u2018tengok\u2019, nah kalau \u2018orang\u2019, disebutnya \u2018wong\u2019. Kemudian ada juga beberapa kata yang disingkat, contohnya \u2018tidak\u2019 menjadi \u2018dak\u2019. Untuk kata lain, umumnya sama seperti bahasa Indonesia, hanya saja tiap kata yang berakhiran dengan huruf A diubah menjadi huruf O, contohnya \u2018kita\u2019 jadi \u2018kito\u2019, \u2018kemana\u2019 jadi \u2018kemano\u2019. Pokoknya, selama masih di kota, orang awam yang sama sekali tidak tahu bahasa Lubuklinggau pasti masih bisa mengerti, tapi kalau sudah masuk daerah-daerahnya, beda lagi ya. \ud83d\ude00<\/p>\n<p>Pada umumnya rumah adat di Indonesia adalah rumah panggung yang sebagian besar dibangun dengan material kayu, tak terkecuali Lubuklinggau, rumah adat Bumi Silampari ini berbentuk semi panggung, dengan tangga yang tidak terlalu tinggi yang terdapat di kedua samping bangunan, ada ornamen bercorak duri ditiangnya dan ornamen kayu di lipslang. Bagian atapnya menggunakan genteng dan berbentuk pelana.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u00a0<a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/rumah-adat.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-619\" src=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/rumah-adat-300x207.jpg\" alt=\"rumah adat\" width=\"300\" height=\"207\" srcset=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/rumah-adat-300x207.jpg 300w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/rumah-adat-1024x708.jpg 1024w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/rumah-adat.jpg 1096w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sama halnya dengan kota lain, Lubuklinggau juga memiliki kesenian daerah dan even tradisional. Ada Senjang, Berejung, Bepantun, ada Tari Sambut Silampari, Tari Tanggai, Tari Senjang, Tari Kreasi, Tari Ngantat Dendan, Tari Kipas, Musik Tanjidor, sampai Upacara Adat Mandi Kasai.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/tari-ngantat-dendan.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-620\" src=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/tari-ngantat-dendan-300x188.jpg\" alt=\"tari ngantat dendan\" width=\"300\" height=\"188\" srcset=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/tari-ngantat-dendan-300x188.jpg 300w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/tari-ngantat-dendan.jpg 640w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Tari Ngantat Dendan<\/p>\n<p>Kalau ada upacara pernikahan, biasanya ada pengiring yang mengantarkan mempelai prianya, kan? Nah, Tari Ngantat Dendan ini adalah tari kreasi khusus sebagai iring-iringan pengantin pria dalam pernikahan adat Lubuklinggau. Cirinya yang paling terlihat adalah <em>jaras,<\/em> rantang besar yang diikat dengan selendang dan diikatkan dikepala penari. Dalam budayanya, jaras digunakan sebagai wadah untuk menampung barang-barang yang diminta pihak mempelai wanita sebagai mahar pernikahan.<\/p>\n<p>Lubuklinggau juga memiliki pakaian adat, loh. Badong, Selendang Rebang, Kain Tajung, Kain Lasem, Baju Kurung, Tengkulak, sampai songket pun ada.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/upacara-adat-mandi-kasai.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-621\" src=\"http:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/upacara-adat-mandi-kasai-300x225.jpg\" alt=\"upacara adat mandi kasai\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/upacara-adat-mandi-kasai-300x225.jpg 300w, https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/upacara-adat-mandi-kasai.jpg 400w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Upacara Adat Mandi Kasai<\/p>\n<p>Mandi Kasai adalah ritual memandikan pengantin yang dilaksanakan usai acara persedekahan atau duduk pengantin, tepatnya sore hari. Pakaian pengantin laki-lakinya adalah teluk belango, kain songket atau tanjung asli yang diikat hingga ke dada, kopiah atau ikat kepala (deda), keris, sandal, dan papaj atau selendang kecil. Sedangkan pengantin wanita mengenakan kain lasem, kebaya, dan selendang rebang.<\/p>\n<p>Ada tarian, ada lagu. Jadi, kalau hanya ada salah satunya saja rasanya kurang lengkap.<\/p>\n<p>Kota Lubuklinggau juga memliki lagu-lagu daerah yang khas dan sering digunakan untuk mengisi festival dan acara-acara kesenian.<\/p>\n<ul>\n<li>Bumi Silampari<\/li>\n<li>Silampari Kayangan Tinggi<\/li>\n<li>Dere Linggau<\/li>\n<li>Dere Baju Abang<\/li>\n<li>Kesenian Lame<\/li>\n<li>Jat Nasip<\/li>\n<li>Jengan Harak<\/li>\n<li>Mangun Dusun<\/li>\n<li>Selendang Mayang<\/li>\n<\/ul>\n<p>Bahasa, rumah, kesenian, lagu, sudah. Berarti tinggal makanannya! (I love this part :p)<\/p>\n<p>Oh, ya, sebelumnya soal makanan khas juga sudah sedikit saya singgung di tulisan sebelumnya, tapi mari kita bedah lagi.<\/p>\n<ol>\n<li>Pempek<\/li>\n<\/ol>\n<p>Siapa yang tidak tahu makanan ini? Anggaplah semua tahu, ya. Jadi, seperti yang sudah kita tahu, pempek punya banyak jenis dan bentuk, ada pempek lenjer, kapal selam, adaan, isi, dan banyak lagi. Ah, pempek bukan Cuma makanan khas Palembang, loh, karena meski namanya sama, tapi cara penyajian dan cita rasanya pasti berbeda.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Tempoyak<\/li>\n<\/ol>\n<p>Bahan dasarnya adalah durian, ynag kemudian dibasikan. Iya, ini durian basi, tapi bisa jadi makanan yang enak dan bisa diolah untuk campuran makanan lain seperti gulai atau pindang, dan bisa juga dibuat sambal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Burgo<\/li>\n<\/ol>\n<p>Teksturnya kenyal, <em>kayaknya<\/em> ini sagu. Cara makannya dikombinasikan dengan santan dan sambal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Lenggang<\/li>\n<\/ol>\n<p>Makanan yang satu ini hampir mirip dengan pempek karena pelengkapnya juga cuka, yang berbeda adalah bahannya yang (setahu saya) cuma telur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li>Model<\/li>\n<\/ol>\n<p>Entah kenapa namanya <em>model,<\/em> yang jelas makanan ini biasanya bisa kita temui ditempat yang sama dengan pempek, hanya saja kuahnya bening, bukan cuka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li>Martabak India<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dikota manapun ada, ya? Tapi sekali-sekali cobain, deh, yang aseli Lubuklinggau, rasanya <em>nagih<\/em>!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>See?<\/em>\u00a0 Ternyata masih banyak, ya, yang belum kita tahu tentang kota yang pernah memperoleh gelar sebagai kota Adipura ini, dari prestasinya saja sudah jelas betapa terjaminnya kebersihan kotanya.<\/p>\n<p>Jadi, kapan mau main ke Lubuklinggau?<\/p>\n<p>Bumi Silampari memanggil\u2026 J<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Sumber foto: <\/em><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.hdesignideas.com\/2014\/10\/rumah-adat-yang-ada-di-propinsi.html\"><em>http:\/\/www.hdesignideas.com\/2014\/10\/rumah-adat-yang-ada-di-propinsi.html<\/em><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.indonesiakaya.com\/kanal\/detail\/ngantat-dendan-tari-pengantar-mempelai-pria-lubuklinggau\"><em>http:\/\/www.indonesiakaya.com\/kanal\/detail\/ngantat-dendan-tari-pengantar-mempelai-pria-lubuklinggau<\/em><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.rejang-lebong.blogspot.in\/2011\/11\/folk-ceremony-upacara-adat-mandi-kasai.html?m=1\"><em>rejang-lebong.blogspot.in\/2011\/11\/folk-ceremony-upacara-adat-mandi-kasai.html?m=1<\/em><\/a><\/p>\n    <!-- sktbuilder starter --><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/plugins\/skt-builder\/sktbuilder\/sktbuilder-frontend-starter.js\"><\/script><script type=\"text\/javascript\" src=\"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/plugins\/skt-builder\/sktbuilder-wordpress-driver.js\"><\/script><script type=\"text\/javascript\"> var starter = new SktbuilderStarter({\"mode\": \"prod\", \"skip\":[\"jquery\",\"underscore\",\"backbone\"],\"sktbuilderUrl\": \"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/plugins\/skt-builder\/sktbuilder\/\", \"driver\": new SktbuilderWordpressDriver({\"ajaxUrl\": \"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-admin\/admin-ajax.php\", \"iframeUrl\": \"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/2015\/04\/08\/bumi-silampari-memanggil\/?sktbuilder=true\", \"pageId\": 618, \"pages\": [], \"page\": \"Bumi Silampari Memanggil\" }) });<\/script><!-- end sktbuilder starter -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh\u00a0Serli Purwanti Dari segi demografi, sudah sangat jelas bahwa Lubuklinggau berbeda dengan Palembang, seperti yang sudah dibahas sedikit di Lubuklinggau itu Palembang?, meski masih sama-sama berumpun melayu, tapi\u00a0 Lubuklinggau dan Palembang memiliki perbedaan dalam sisi kebudayaan. Motto Kota Lubuklinggau itu, SEBIDUK SEMARE. Sebiduk berasal dari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":620,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,46],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2015\/04\/tari-ngantat-dendan.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/media\/620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sobatbudaya.or.id\/jkt\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}