Sobat Budaya Bali | Ekspedisi Perak Bali: Antara Kesakralan, Kemewahan dan Klaim
40
post-template-default,single,single-post,postid-40,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,large,shadow3,wpb-js-composer js-comp-ver-4.4.3,vc_responsive

Blog

Ekspedisi Perak Bali: Antara Kesakralan, Kemewahan dan Klaim

12 Nov 2014, oleh Sobat Budaya Bali di Artikel

Foto Bersama Suarti - wawancara perak 1

Kerajinan perak tak hanya hidup di dalam keseharian masyarakat Bali, kini perak pun telah termasyur ke pelosok negeri.

Tim ekspeditor Sobat Budaya merasa terpanggil untuk mengenal perak di Bali, tepatnya Desa Celuk. Celuk telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak. Tapi bagaimana awal kemunculannya hingga akhirnya mendunia? Tim ekspeditor bersama Ayushita Nugraha sebagai Duta Sobat Budaya menelusuri keberadaan perak di Celuk pada awal bulan Agustus 2014.

Ketika memasuki jalan raya Celuk, tim ekspeditor langsung disambut oleh barisan galeri perak. Hampir seluruh masyarakat Desa Celuk menekuni kerajinan perak. Awalnya kerajinan perak hanya terbatas pada keperluan agama. Berkat pariwisata, kerajinan perak di Celuk pun semakin berkembang.

“Saya lihat dalam pusaka-pusaka keris yang ada di Bali, waktu pembuatannya sekitar abad ke-19. Jadi menurut saya ornamen-ornamen dan patran-patran itu sudah ada sejak tahun 1920-an,” ungkap Tjok Ace, salah satu keturunan Puri Ubud.

Dari segi keturunan, pengrajin perak berasal dari klan Pande. Klan ini yang biasa mengerjakan emas, besi dan perunggu. Sejak dulu, klan Pande banyak tinggal di Desa Celuk. Pada zaman kerajaan, klan Pande disebut sebagai abdi kerajaan. Mereka fokus membuat produk-produk kerajinan untuk istana dan pura. Keperluan istana seperti mahkota, keris dan kerajinan lainnya.   Selain itu, mereka juga membuat peralatan upacara yang terkait dengan upacara keagamaan, seperti dulang, tempat air suci (kubuh dan canting), tempat bunga atau sesaji (bokor dan saab).

2014-08-07 13.35.00

“Kemunculan perak awalnya memang untuk kepentingan kerajaan dan keagamaan. Pada era 1970-an sudah mulai pergeseran. Pengrajin mulai membuat perhiasan untuk kepentingan penari, seperti badong, subeng. Tapi bukan untuk kepentingan sehari-hari, masih untuk kepentingan adat,” kata Drs. I Nyoman Ngidep Wiyasa, M.Si., dosen ISI Denpasar.

Jawan 1

Ciri khas perak di Bali terletak pada jejawan atau jawan, material perak berbentuk bola atau lempengan kecil. Ada dua jenis jawan, yaitu jawan pasir dan jawan plat (berbentuk lempengan). Jawan ditempa dan ditata dengan granulasi membentuk untaian tumbuhan. Bentuknya cenderung melingkar.

“Filosofi jawan terlihat dari material perak yang menyerupai titik-titik kemudian membentuk garis. Sebuah karya seni selalu mulai dari sebuah garis, begitu pula dengan kehidupan kita,” jelas Desak Nyoman Suarti, seorang pengusaha perak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nyoman Ngidep Wiyasa, motif asli Bali disebut keketusan atau geometris, karena unsur-unsurnya berupa garis. Unsur-unsur itu akan ditambah dengan rangkaian kawat-kawat dan jawan sehingga menampilkan motif geometris seperti pada nekara. Motif-motif perak berkembang dengan masuknya pengaruh Cina, Mesir dan Belanda. Tjok Ace menegaskan adanya pengaruh asing dalam motif perak Bali bukan berarti menjiplak. Namun, pengaruh asing itu disesuaikan dengan kearifan lokal Bali.

Perkembangan perak yang berkembang pesat tidak membuat masyarakat Celuk sepenuhnya tenang. Ada bayang-bayang klaim motif dari perancang perak asing. Kasus klaim pernah terjadi tahun 2008. Banyak perancang asing yang telah mematenkan motif perak Bali di negaranya. Sehingga, pengrajin Bali dapat terjerat hukum jika memproduksi motif yang mereka patenkan. Ironis, para pengrajin Bali justru dilarang berkarya dalam tradisi sendiri.

“Orang asing itu banyak melihat kesempatan bahwa perak Bali dapat menjadi ikon dunia. Sedangkan orang Indonesia belum peduli. Para perancang asing ini mematenkan motif warisan budaya Indonesia. Saat itu, kami bikin forum peduli budaya bali untuk menolak paten mereka,” tegas Suarti yang juga ikut melayangkan protes terhadap klaim tersebut.

Kekuatan masyarakat akhirnya berbuah hasil. Para pengrajin Bali mampu membuktikan motif-motif itu memang milik orang Bali. Motif-motif itu sudah ada di pura-pura sejak lama. Selain itu, pemerintah telah aktif membawa kasus ini hingga ke PBB. Tentu, harapannya tak ada lagi klaim budaya Indonesia dari pihak asing.

“Sekarang kita sudah mulai hati-hati. Kami menyarankan kepada  pemerintah dan akademisi supaya membuat database. Ukir-ukirannya di Gianyar seperti apa, kemudian ukiran Karangasem itu apa aja,” tutur Suarti.

Dari segi sejarah, para seniman Bali dulunya belum sadar akan hak cipta. Seluruh karya seniman Bali adalah anonim. Bahkan, menurut Tjok Ace para seniman merasa bahagia ketika karyanya dijiplak. “Mereka merasa bahagia karena jiplakan itu bararti karya mereka telah diterima.” Upaya Tjok Ace boleh jadi sebuah kemajuan. Banyaknya produk kerajinan di Bali mendorong Tjok Ace bersama rekan-rekan lainnya mendirikan klinik HAKI. Klinik ini membantu para seniman mematenkan karyanya.

Pengumpulan data menjadi sangat penting. Sayangnya belum banyak data budaya yang terkumpul. Inilah yang kini tengah dilakukan Sobat Budaya, melakukan ekspedisi dan mendata budaya Indonesia. Harapannya, data budaya ini dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

  • WordPress
  • Google Plus
  • Facebook

Silakan komentar